INDRAMAYU , Sinarpagijaya.com – Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Kabupaten Indramayu, Teguh Budiarso, menjadi sorotan publik setelah dinilai mengabaikan konfirmasi media terkait penertiban bangunan liar di kawasan Sport Center Indramayu.
Alih-alih memberikan penjelasan secara langsung, Teguh justru mengarahkan wartawan untuk melihat unggahan kegiatan di kanal media sosial humas Satpol PP. Sikap tersebut dinilai tidak mencerminkan keterbukaan informasi yang seharusnya dijalankan oleh pejabat publik
Sorotan terhadap kinerja Satpol PP Indramayu menguat dalam beberapa hari terakhir, tidak hanya terkait penertiban bangunan liar, tetapi juga dalam penanganan banjir serta pembongkaran bangunan di sekitar kolam renang Tirta Darma Ayu.
Meski dokumentasi penertiban ditayangkan melalui akun resmi Humas Satpol PP, publik menilai informasi tersebut belum memadai. Unggahan hanya menampilkan foto kegiatan tanpa disertai penjelasan kronologis, dasar hukum penertiban, serta pihak yang bertanggung jawab atas keberadaan bangunan tersebut.
Kondisi ini memicu polemik. Wakil Ketua GEPLAK (Gerakan Pers Lurus, Akurat, dan Kritis), Lukman, mempertanyakan konsistensi penegakan aturan oleh Satpol PP Indramayu.
“Bangunan itu bukan baru berdiri. Sudah lama ada di kawasan strategis olahraga. Pertanyaannya, siapa yang membiarkan? Mengapa baru sekarang ditertibkan? Jangan sampai penertiban hanya dijadikan tontonan publik tanpa evaluasi internal,” tegas Lukman.
Upaya konfirmasi media kepada Kasatpol PP Indramayu justru berujung pada jawaban singkat yang dinilai menghindari substansi.
“Kan sudah ada di humas Pol PP Damkar, itu salah satu keterbukaan. Semua giat kami ekspose,” ujar Teguh saat dikonfirmasi media.
GEPLAK menilai pernyataan tersebut mencerminkan kekeliruan dalam memaknai keterbukaan informasi publik. Menurut Lukman, unggahan foto kegiatan tidak dapat menggantikan kewajiban pejabat publik untuk memberikan penjelasan langsung kepada media.
> “Kehumasan bukan tameng. Media bukan lawan, tapi mitra kontrol sosial. Ketika pejabat memilih menjawab dengan menunjuk foto tanpa keterangan, justru di situlah ruang tafsir publik semakin liar,” tandasnya. (Ats)


